![[Foto: Dr. Shadman dan Ryan Decker ketika sedang mengawasi proses operasi | Axel Krieger via cnet.com]](https://i0.wp.com/labanaid.labanapost.com/wp-content/uploads/2016/05/robosurgeon.jpg?resize=800%2C739&ssl=1)
Itulah ide di balik robot bedah ini, yang cepat atau lambat akan memiliki kemampuan untuk melakukan banyak operasi, mulai dari menjahit luka kecil sampai melakukan operasi jantung yang rumit. Pada kenyataannya, banyak operasi yang telah dijalankan dengan bantuan robot dan mesin seperti da Vinci Surgical System yang mampu meniru setiap gerakan dokter bedah yang mengendalikannya dari jauh.
Uji coba terbaru yang dilakukan oleh peneliti di Children’s National Health System (CNHS) dan Johns Hopkins University menunjukkan bahwa robot operasi memiliki potensi yang besar untuk berkembang lebih jauh. Robot operasi ini rupanya mampu melakukan operasi pada jaringan lunak dari awal sampai akhir tanpa bantuan dokter. Sementara itu, para dokter bedah tinggal mengawasinya saja.
“Enam puluh persen [dari operasi ini] dilakukan sepenuhnya secara dan kami membuat penyesuaian kecil dalam 40 persen kasus—bukan karena robot itu membutuhkannya,” kata Kim, profesor bedah dan wakil presiden CNHS Sheikh Zayed Institute untuk Inovasi bedah pediatrik.”Kami seperti orang tua yang menyaksikan anaknya berjalan untuk pertama kalinya, jadi kami sedikit gugup.”
Dalam uji coba ini, Smart Tissue Autonomous Robot (STAR) berhasil menyelesaikan sebuah operasi usus terbuka pada babi. Babi yang dioperasi tersebut kini dalam keadaan sehat dan tanpa komplikasi.
Dirancang dan diprogram oleh Azad Shademan, Peter Kim dan timnya, Smart Tissue Autonomous Robot (STAR) ini terbukti lebih mahir dalam operasi jaringan lunak dibandingkan ahli bedah manusia yang berpengalaman, setidaknya dalam operasi tes khusus ini, menurut sebuah makalah yang diterbitkan di Science Translational Medicine. Untuk meningkatkan teknologi yang sudah ada saat ini, kini tim tersebut tengah berusaha untuk meningkatkan kualitas penglihatan robot.