Home  »  Tips & Guide   »  
Tips & Guide

3 Strategi Menyikapi Mahalnya Biaya Rumah Sakit

Gandung (54) dan keluarga besarnya beberapa waktu lalu sempat kebingungan. Hal itu terjadi karena ibu mereka, Nenek Har (86) terjatuh dari kamar mandi. Akibatnya, tulang iganya patah dan berimbas kepada aktivitasnya sang ibu yang jadi serba terbatas. Lama-kelamaan, kondisi Nenek Har pun terus menurun. Maka, tanpa berpikir lagi, Gandung dan keluarga besarnya segera membawa Nenek Har ke sebuah rumah sakit.

Saat berada di rumah sakit, karena usia yang sudah cukup renta, dokter pun melakukan analisis lebih mendalam. Ternyata, setelah  diperiksa secara lebih menyeluruh, kondisi Nenek Har jauh lebih parah dan harus segera dirawat di rumah sakit. Salah satunya, karena selama dirawat di rumah, kencing dan buang air besar Nenek Har tidak teratur. Organ ginjalnya jadi bermasalah dan harus segera dilakukan tindakan.

Karena kondisinya sudah dianggap darurat dan kritis, Nenek Har membutuhkan perawatan yang lebih intensif. Untuk itu, ia harus ditangani oleh beberapa dokter spesialis sekaligus. Dengan pengananan itu, menurut Gandung, untuk sewa kamar ICU saja, ia dan keluarga harus mengeluarkan biaya sekitar Rp4 juta semalam. Belum termasuk pengobatan seperti biaya suntikan, biaya obat, dan ada kemungkinan tindakan operasi untuk ginjal. Gandung mengatakan, saat harus dirawat di rumah sakit, biaya yang dibutuhkan sangat besar untuk kebutuhan perawatan tersebut.

Pada saat itu, tindakan operasi segera harus dilakukan. Beruntung, saat-saat mendesak, Nenek Har rupanya selama ini mempunyai dana darurat yang disimpannya untuk digunakan pada saat-saat kritis. Uang itu merupakan hasil uang pensiun yang dikumpulkan Nenek Har—yang sebelumnya berprofesi sebagai guru—yang hampir tak pernah digunakan. Menurut Gandung, ia bisa menggunakan sebagian uang tersebut untuk sedikit mengurangi biaya operasi.

Untuk menutupi kekurangan biaya operasi dan berobat, Gandung terpikir untuk mengurus asuransi BPJS Kesehatan. Namun ternyata, BPJS kesehatan Nenek Har belum didaftarkan. Kalaupun mau didaftarkan pada saat itu, proses klaimnya butuh waktu. Karena itu, akhirnya Gandung harus meminjam uang ke relasi terdekat untuk menutupi kekurangan biaya perawatan.

Menyikapi Mahalnya Rumah Sakit

Kisah Gandung tersebut adalah sebuah gambaran nyata, betapa biaya rumah sakit adalah komponen yang tak bisa diprediksi berapa kebutuhan biayanya. Bahkan, tak jarang, perawatan di rumah sakit bisa mengakibatkan kebangkrutan keuangan seseorang. Hal ini salah satunya diungkapkan oleh ahli keuangan dari sebuah perusahaan keuangan di Amerika Serikat Jason Alderman. Ia mengatakan, lebih dari separuh kebrangkrutan keuangan seseorang diakibatkan karena tingginya tagihan biaya kesehatan. (huffingtonpost.com, 29 Desember 2010).

Lantas, bagaimana agar kita bisa mengatasi mahalnya biaya rumah sakit? Menurut Oscar Boldt-Christmas, Jonathan Dimson, dan Christian Kloss, dalam sebuah jurnal online tahun 2010 berjudul Supply and Demand Strategies for Lowering Spending on Hospitals (hal. 2) ada strategi dasar untuk menyikapi mahalnya biaya rumah sakit. Salah satu hal yang mereka contohkan adalah bahwa saat ini pada beberapa kasus penyakit gagal ginjal, mereka bisa melakukan cuci darah di rumah. Namun, untuk melakukan cuci darah di rumah, butuh perhatian dan tanggung jawab yang khusus dibandingkan jika dilakukan di rumah sakit atau pusat perawatan kesehatan. Tapi memang, jika ini bisa dilakukan, akan lebih nyaman dan lebih terjangkau biayanya. Hanya saja, harus selalu diingat, bahwa itu bisa dilakukan hanya atas petunjuk dari dokter dan ahli kesehatan.  


Namun, strategi tersebut hanya bisa dilakukan jika pasien tidak terlalu parah. Bagaimana jika penyakit yang diderita hanya bisa ditangani oleh dokter ahli di rumah sakit seperti yang dialami Gandung? Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan, untuk meminimalisir biaya perawatan:

  • Menyiapkan dana darurat

Sebagaimana namanya, dana darurat adalah dana yang dikumpulkan dan sewaktu-waktu bisa diambil jika terjadi kondisi darurat. Salah satu dana darurat yang dianjurkan untuk disiapkan adalah dana untuk kebutuhan kesehatan. Menurut perencana keuangan Prita Ghozie, dana darurat bukan hanya penting saat ada kebutuhan mendadak. Tapi, juga jadi penyambung hidup saat sesuatu yang buruk terjadi. Misalnya, ketika pencari nafkah utama keluarga kehilangan pekerjaan. Besarnya dana darurat ini relatif berbeda-beda bagi setiap orang. Tapi, menurut Prita, bagi yang sudah berkeluarga, idealnya adalah 8-12 kali pengeluaran rutin bulanan. (femina.co.id, 22 Maret 2015).

  • Memiliki asuransi kesehatan

Menurut Randall R. Bovbejerg dan Jack Hadley dalam jurnal online tahun 2007 berjudul Why Health Insurance is Important, menyebutkan setidaknya ada beberapa manfaat asuransi kesehatan yang pasti didapatkan jika seseorang mempunyai asuransi kesehatan dibanding yang tidak memilikinya. Beberapa yang disebutkan adalah:

  1. Orang yang punya asuransi akan mendapatkan perawatan yang lebih intensif dan efisien dari rumah sakit,
  2. Mereka yang tidak memiliki asuransi kesehatan biasanya akan mendatangkan beban keuangan bagi diri dan keluarganya.
  3. Mereka yang memiliki asuransi kesehatan bisa mendapatkan akses perawatan yang lebih baik dibanding yang tidak memilikinya.

Saat ini, di Indonesia sudah banyak perusahaan asuransi yang menawarkan produk asuransi kesehatan. Untuk itu, Anda bisa mengidentifikasi beberapa kebutuhan yang mungkin Anda perlukan jika suatu saat harus dirawat di rumah sakit. Misalnya, Anda ingin dirawat di ruang kelas seperti apa, apakah perlu tambahan jaminan perluasan untuk perawatan gigi dan mata, atau adakah kebutuhan khusus lain. Dari hasil identifikasi tersebut, Anda bisa mencari asuransi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.

  • Meminta sejumlah keringanan dari rumah sakit

Jika memungkinkan, sebenarnya pasien atau keluarganya bisa meminta keringanan biaya dari obat-obatan dan jenis perawatan yang diberikan. Misalnya, meminta jenis obat generik untuk mendapatkan obat dengan harga lebih terjangkau, hingga meminta dirawat di ruang perawatan dengan biaya sewa yang lebih terjangkau. Bahkan jika memungkinkan, karena salah satu komponen biaya rumah sakit adalah biaya sewa ruangan, kita bisa meminta pasien dirawat di rumah sendiri bila memungkinkan. Seperti yang diungkapkan oleh Oscar Boldt dkk (Supply and Demand Strategies for Lowering Spending on Hospitals, 2010), keluarga bisa merawat pasien di rumah. 

Sebarkan artikel ini kepada relasi Anda melalui fitur jejaring sosial. Dan, bagikan juga pengalaman Anda terkait biaya perawatan di rumah sakit melalui kolom di bawah ini.